Latest News

Showing posts with label Basuki. Show all posts
Showing posts with label Basuki. Show all posts

Sunday, March 5, 2017

Heboh, Raja Salman Takjub dengan Ahok, dia ingin bertemu dan belajar dari Ahok, Inilah Alasannya.



Heboh, Raja Salman Takjub dengan Ahok, dia ingin bertemu dan belajar dari Ahok, Inilah Alasannya.


Setelah 47 taon, Akhirnya Raja Islam sedunia, Salman bin King Abdul aziz Al Saud .INSA Allah,
Entar siang Ahok bareng Presiden sambut Raja. Raja Islam salaman sama Penista Agama Al Almaidah 51. kedatangan Raja Salman dari Arab ke Indonesia selain untuk melakukan kerja sama Bilateral. Raja Salman ingin bertemu dengan Gubernur DKI Basuki Tjahaja Purnama. Tetapi tentu saja undangan Raja Salman kepada Ahok bukan lah sekedar Hoax ataupun isu politk semata. hal itu dipastikan oleh Pihak Protokoler Pemprov DKI.

Baca juga :  "pihak Protokoler Pemprov DKI telah terima surat dari Sesneg mengundang Ahok dengan cara resmi sebagai Gubernur DKI Jakarta untuk berjumpa dengan Raja Salman dalam satu session acara resmi kenegaraan pada tanggal 2 Maret 2017." 

Raja salman memiliki pertemuan dengan Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama atau yang lebih di kenal Ahok. Gak salah nih? Salah sepertinya. bagaimana Penista Agama diundang untuk berjumpa dengan Raja Salman? Apakah Sang Raja tidak tahu permasalahan yang sedang dihadapi Ahok ? Atau tak takut dimandikan jenazahnya bila meninggal dunia kelak lantaran telah mengundang Ahok? Itu lah beberapa perlakuan sosial yang didapatkan dari beberapa Pendukung Islam Radikal di Jakarta. mungkin saja itu cuma gurauan atas semuanya. karena bagian desakan yang tengah ramai dilakukan pada Ahok untuk menjegal dalam kontes PILKADA 2017.
Pertemuan tersebut membicarakan tentang efek dari birokrasi dan pelayanan umum. pengalaman ahok selama memimpin jakarta telah banyak mengubah muka birokrasi dan pelayanan masyarakat yang lebih baik lagi serta prestasi-prestasi Ahok yang dibicarakan WNI di Arab saudi. hal inilah yang menjadi ketertarikan Raja salman disamping status Ahok yang saat ini menjadi Terdakwa atas tuduhan Penodaan Agama.
kagum dengan kejeniusan ahok, raja arab ingin berjumpa empat mata dengan ahok.

raja salman berkata : tidak ada satupun negeri arab yang mampu melakukan seperti apa yang telah di lakukan oleh ahok untuk dki.

terobosan ahok untuk dki yang membuat dunia termasuk raja salman kagum dengan keberhasilan Ahok mengubah birokrasi dan keberhasilan Ahok dalam meningkatkan pelayanan masyarakat adalah hal yg utama

semua itu membuat raja salman kagum dan takjub pada sosok ahok dan ingin belajar padanya.

pemimpin yang baik adalah pemimpin yang dicintai rakyatnya dengan membawa perubahan yang nyata. untuk hubungan agama. itu adalah hubungan pribadi kita terhadap sang pencipta.

sumber : Kompas.com

Arbi Sanit: Salaman Raja Salman - Ahok Tamparan Keras untuk Rizieq



Arbi Sanit: Salaman Raja Salman - Ahok Tamparan Keras untuk Rizieq


Kebersamaan Raja Arab Saudi, Salman bin Abdul Aziz Al Saud dengan Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) di Bandara Halim Perdana Kusuma, Rabu (1/3/2017) kemarin, merupakan pelajaran dan tamparan keras bagi Imam Besar Front Pembela Islam (FPI) Habib Rizieq Shihab.

Demikian yang disampaikan oleh pengamat politik Arbi Sanit. Menurutnya, apa yang ditunjukan Raja Arab itu merupakan bentuk kedewasaan dalam beragama.

"Itu tamparan keras buat Rizieq. Raja Arab memberinya pelajaran dan ingin menunjukan bahwa gak ada persoalan dengan bersalaman, berpelukan, berbicara, bahkan bersahabat dengan orang yang beda agama," kata Arbi kepada Netralnews.com, Kamis (2/2/2017).

Pasalnya, sehari sebelum kebersamaan Raja Salman dan Ahok, Habib Rizieq yang hadir sebagai saksi ahli di persidangan kasus dugaan penistaan agama, di Auditorium Kementerian Pertanian, Ragunan, Jakarta Selatan, Selasa (28/2/2017), enggan bersalaman dengan terdakwa Ahok. 

"(Salaman mereka) Itu bahasa tubuh. Itu namanya kedewasaan beragama yang ditunjukan oleh Raja Salman yang gak ada pada Habib Rizieq. Ini raja yang mengepalai umat Islam di Timur Tengah aja mau bersahabat dengan Ahok. Gak jadi masalah," ungkapnya.

Arbi bahkan menyebut, apa yang dilakukan Raja Salman kepada Ahok memberi kesan berbeda dengan apa yang selama ini dinyatakan Habib Rizieq kepada Ahok.

"Secara logis tindakan Raja Arab itu bermakna bahwa Rizieq ini gak punya logika sama sekali dalam beragama. Beragama Rizieq seperti anak-anak, maunya menang sendiri, tidak mau bertoleransi,"tandas Arbi.(netralnews.com)

Friday, February 10, 2017

Tragis, Ahok Menjadi Satu2nya Pilihan Pro Kebhinekaan di Pilkada DKI 2017.

Hasil gambar untuk basuki

Tragis, Ahok Menjadi Satu2nya Pilihan 

Pro Kebhinekaan di Pilkada DKI 2017.

Setelah proses kampanye yang melelahkan batin dan emosi bangsa, maka Pilkada DKI 2017 tinggal menyisakan Ahok-Djarot sebagai satu2nya pilihan bagi yang pro kebhinekaan. Sentimen SARA yang dihembuskan keras sejak demo 411, dan 212 terus bergulir sampai isu Ulama telah membawa Pilkada DKI 2017 ke level terendah secara moral kebangsaan.

Awalnya, Agus-Ahok-Anies mewakili pemimpin2 muda yang bisa memberikan kebaruan2 dalam ide, gagasan, strategi, sampai ke program2. Tapi apa lacur, rupa2nya SBY dan Prabowo dua tokoh utama penggerak Agus dan Anies memiliki skenario lain.

Kasus buka2an SBY soal telpon ke ketua MUI telah menggerus elektabilitas AHY sampai kebuncit. Dan dengan sigapnya, Prabowo melihat ini sebuah kesempatan. Tanpa malu lagi, seperti anak kecil yang sudah ngebet es krim, Prabowo dalam kampanyenya mengatakan :

Saudara2, kalau kalian ingin saya jadi presiden 2019, Anies-Sandi gubernur DKI, betul? Di 2019, kalian harus kerja keras, kalian juga harus kerja keras di Februari 2017, jangan di sini teriak2.

Pernyataan yang secara lugas memperlihatkan ambisi yang sangat besar. Bukan sesuatu yang melanggar hukum, tapi secara etika, moral, dan akal sehat sangat mengganggu kebatinan para pendukung NKRI dan Kebhinekaan.

Karena ambisi yang sangat besar itu maka AGAMA telah digunakan untuk memenuhi target dan cita2 akan kekuasaan. Lupa bahwa posisi dan kekuasaan adalah amanah, milik Tuhan.

Emmy Hafild seorang aktifis sosial, politik, dan lingkungan hidup menulis dengan apik kritikan terhadap teman2nya Rocky Gerung, Rachlan Nashidiq, Bambang Widjojanto, Edriana Noerdin yang telah menjadi pendukung paslon 1 dan 3.

Emmy pada dasarnya menyayangkan para aktifis yang dahulunya memperjuangkan NKRI yang Bhinneka tapi sekarang menggunakan isu sektarian untuk mengelabuhi masyarakat DKI.

Dengan diam terhadap apa yang sedang terjadi saat ini terhadap Ahok, kalian menghianati perjuangan kita dan mempunyai andil yang besar terhadap upaya penghancuran fondasi kebangsaan negeri ini.
Tidak usah mengelabui warga DKI dengan mengatakan kandidat yang telah kalian dukung tidak pernah mengucapkan hal2 yang bersifat sektarianisme, karena semua itu sangat gamblang terjadi di depan mata kita semua. Mendiamkan apalagi mengambil untung dari penggorengan issu itu di publik sama bersalahnya dengan mengucapkan kata2 tersebut langsung dari mulut kandidat yang kalian dukung.

Kalimat keras dari Emmy memang mewakili kita semua yang memperjuangkan nasionalisme lepas dari unsur SARA. Bahkan tanpa merasa berdosa, di web resminya, tim Anies-Sandi beralibi bahwa 80% masyrakat DKI menghendaki dari mayoritas, yaitu orang Islam.

Pernyataan yang sangat menyakitkan relawan2 seperjuangan yang sedang membangun tenun kebangsaan yang sepakat bahwa di NKRI tidak ada kata mayoritas ataupun minoritas, semua adalah WNI. Terasa bahwa selama ini terjadi pembodohan yang masif yang intinya kalau mencari suara kita nasionalis (agama apapun), kalau memilih pemimpin harus Islam.

Kalau sejak awal menyatakan bahwa pemimpin harus Islam, tentunya itu suatu pilihan yang harus dihargai, tapi ketika di awal mengatakan “agama apapun boleh”, “tidak ada mayoritas dan minoritas”, “kita semua satu bangsa”, kemudian tiba2 berbalik mengatakan “harus Islam”, “harus mayoritas”, “kita adalah satu iman”, bukankah ini sebuah kemunafikan yang sudah keterlaluan..??

Harus diingat, isi ini tidak akan berhenti di 15 Februari 2017, Prabowo sudah membuka pintu perang politik 2019, dan dari pidatonya dan manuver Anies-Sandi jelas dia akan tetap menggoreng isu SARA. Apalagi kalau Jokowi memilih pasangan yang moderat atau bahkan non-muslim. Kegilaan Pilpres 2019 bisa melebihi 2014.

Harus diingat bahwa munculnya Nasionalis vs Agama ini dimulai di Pilkada DKI 2012, dan mengerucut di 2014 dan terus dilestarikan oleh kelompok KMP (yang sudah bubar) sampai sekarang. Artinya, sebenarnya oknum intelektual hanya itu2 saja, tapi karena mereka masih in position, maka pemain2 baru seperti Anies-Sandi, dan AHY menjadi pion2 yang tidak lagi menjadi calon pemimpin yang bisa diharapkan untuk membuat perubahan (dalam posisi ini).

Satu hal yang perlu di-highlight. Sebagai orang gereja, saya bisa memberi kesaksian bahwa Ahok selama kampanye ini tidak blusukan ke gereja2 dan kemudian memberikan tausiyah kristen dan mencari suara di ceruk2 kristen.

Ahok tidak pernah mencoba mengklarifikasi dia bukan liberal, injili, karismatik, katolik, ataupun protestan. Bahkan terasa sekali ada jarak antara gereja dan Ahok. Meskipun Ahok sesekali terlihat diundang dalam forum diskusi tentang nasionalisme dan kristen, tapi terlihat jelas Ahok TIDAK PERNAH menggunakan sentimen agama untuk mencari suara.

Saya sangat menghargai itu. Apabila Ahok ke mimbar2 gereja meminta dukungan, saya jadi orang didepan yang akan menentang Ahok. Dan, puji Tuhan, Ahok tidak mengkhamiri mimbar dengan politik, dan justru dengan kemurnian Ahok itu, dukungan Ahok dari warga gereja bisa maksimal. Bukan karena Ahok kristen, tapi karena Ahok bekerja dengan bersih, transparan, dan profesional. Catat itu!

Sebagai kesimpulan, Ahok menjadi paslon yang satu2nya mengusung kebhinekaan, yang lain hanya menggunakan isu kesatuan untuk meraup suara. Bagi yang pro kebhinekaan, NKRI yang murni, dan Pancasila yang bukan piagam Jakarta, maka se akan2 malah “dipaksa” milih Ahok. Tidak ada pilihan lain.
BY HANNY SETIAWAN 
ON FEBRUARY 6, 2017

(Pendekar Solo)
Foto Profil AthaCi
https://www.facebook.com/agathakoesnadi?fref=ufi&rc=p

Saturday, February 4, 2017

Setelah Dapat Sumbangan 60 Miliar, Kini Ahok Dapat Konser Miliaran Rupiah

Setelah Dapat Sumbangan 60 Miliar, Kini Ahok Dapat Konser Miliaran Rupiah


KOMPAS.com / KRISTIANTO PURNOMO
Simpatisan pasangan calon gubernur dan wakil gubernur DKI Jakarta no urut 2 Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) – Djarot Saiful Hidayat saat Konser Gue 2 di Ex-Driving Range Golf, Senayan, Jakarta, Sabtu (4/2/2017).
Ahok adalah fenomena. Itu sudah jelas dan tidak terbantahkan. Saking fenomenalnya, Ahok mendapatkan pertentangan luar biasa dari orang yang lahan upeti, mafia, dan korupsinya diambil. Bahkan warga yang menyerobot tanah pemerintah dan daerah sepadan sungai dijadikan alasan untuk menyingkirkan Ahok dengan alasan peduli dan keadilan.
Peduli dan keadilan dengan memberikan mereka hak, padahal kehadiran mereka di daerah bantaran sungai merusak hak orang lain untuk tidak terkena banjir. Diberikan rumah susun yang manusiawi malah dikatakan sebagai tindakan tidak manusiawi. Sangat keterlaluan.
Kasus Ahok yang didakwa sebagai penista agama pun digulirkan. Agama dipakai untuk menyerang Ahok yang memang statusnya double minorotas, sudah Kristen… Cina lagi. Tetapi hal itu tidak menyurutkan kefenomenalan Ahok. Seperti yang disampaikan SBY dalam ceramahnya di markas FPI, Kebenaran itu abadi. keadilan juga abadi (Baca >>> https://seword.com/politik/sby-turun-gunung-demi-agus-bukan-melakukan-orasi-ini-yang-dilakukan-pak-mantan/). Ya, apapun usaha orang, kebenaran dan keadilan tetap akan hidup.
Kebenaran dan keadilan kepada Ahok menjadi sebuah kenyataan dengan dukungan warga yang memberikan sumbangan kepada Ahok. Sumbangan bahkan terpaksa ditutup karena sudah mencukupi kebutuhan kampanye Ahok. Padahal masih banyak lagi yang mau memberikan sumbangan untuk dana kampanye Ahok.
Status ahok yang tersangka tidak menyurutkan niat warga mendukung Ahok. Mereka ingin memperjuangkan Ahok sebagai wakil mereka di eksekutif. Mereka mendukung bukan karena satu agama, melainkan sati ideologi Pancasila dan Kebhinekaan. Pastinya karena mereka merasakan langsung perubahan yang dilakukan Ahok.

“Pencapaian sebesar Rp 60,1 miliar kami rasa sudah sangat mencukupi untuk memberikan support pendanaan segala sesuatu untuk kampanye kemenangan pasangan nomor 2, Pak Basuki dan Pak Djarot,” kata Wakil bendahara tim pemenangan Ahok-Djarot, Joice, di Posko Borobudur, Menteng, Jakarta Pusat, Rabu (11/1/2017).
“Kami tidak ingin menggunakan kesempatan atau euforia ini mumpung orang-orang mau memberikan uangnya terus kami melanjutkan. Karena kalau memang sudah cukup kami stop,” ucap Joice.
Dari sumbangan sebesar 60,1 miiar tersebut, Rp 45,6 Miliar berasal dari sumbangan perseorangan, sedangkan Rp 14,4 miliar dari badan usaha. Ini menunjukkan bahwa banyak individu yang memang memberikan dukungannya kepada Ahok. Bukan apa-apa, individu inilah yang menjadi bukti bahwa warga memberikan dukungan nyata kepada Ahok.

Tidak berhenti disitu. Semalam, Sabtu (4/2/2017), di eks Driving Range Senayan, fenomena Ahok berlanjut. Ahok yang sudah mendapat sumbangan dana 60,1 miliaar, kini mendapatkan bantuan digelarnya konser dengan harga miliaran rupiah. ratusan artis dengan bayaran jutaan hingga ratusan juta berkumpul mendukung Ahok. Mereka melakukan pagelaran seni sesuai keahlian masing-masing. Hebatnya, mereka tidak dibayar dan biaya panggung serta pengamanan dibayar dengan sumbangan sukarela.
“Tidak ada satu pun penampil yang dibayar kecuali kru yang untuk stage manager, tata panggung, sound system dan lain-lain. Tapi mereka itu memberikan harga yang spesial. Bayar tempat, pengamanan aja,” kata Ketua Panitia #KonserGue2, penata artistik Jay Subiakto.
“Semua penyandang dana harus punya NPWP. Jadi semuanya transparan, yang nyumbang harus jelas. Ada batas jumlahnya juga buat yang nyumbang,” ucapnya.
Ahok memang gila. Sudah dapat sumbangan miliaran rupiah, kini dapat konser artis pendukung senilai miliaran rupiah. Hal yang tidak bisa dilakukan oleh paslon lain. Mereka mengeluarkan dana pribadi miliaran dan bahkan harus membayar agar massa berkumpul. Artis pendukung mereka pun tidak akan mau mengurusin panggung seperti #KonserGue2 tanpa bayaran. Memang sejalan dengan gaya paslon yang mereka dukung.
#KonserGue2 adalah pembeda ahok dari paslon lain. #KonserGue2 adalah bukti bahwa Ahok dicintai warganya. #KonserGue2 juga adalah pembuka jalan Ahok untuk kembali menjadi Gubernur DKI Jakarta Baru, Jakarta yang diimpikan setiap warganya. #KonserGue2 ini jugalah yang sebelumnya menghantar Jokowi 3 tahun yang lalu menjadi Presiden.
Jadi, tidak usah bingung dan ragu. Pilihlah pemimpin yang didukung secara partisipatif oleh warganya. Tidak usah pilih paslon yang peponya sibuk buat berita hoax pembuat gaduh dan paslon yang salah satu calonnya punya kepentingan bisnis yang besar. Pilihlah cagub dan cawagub rakyat untuk memimpin rakyat tanggal 15 Februari 2017.
https://seword.com/politik/setelah-dapat-sumbangan-60-miliar-kini-ahok-dapat-konser-miliaran-rupiah/

Hasil Survey Terbaru, Basuki-Djarot Unggul Telak Diseluruh Wilayah Jakarta!

Hasil Survey Terbaru, Basuki-Djarot Unggul Telak Diseluruh Wilayah Jakarta!

Hasil Survey Terbaru, Basuki-Djarot Unggul Telak Diseluruh Wilayah Jakarta!


Jelang Pemilihan Kepala Daerah DKI Jakarta 2017, lembaga survei Charta Politika merilis hasil survei yang digelar pada 17-24 Januari 2017. Hasilnya, pasangan calon Gubernur dan Wakil Gubernur Basuki Tjahaja Purnama dan Djarot Syaiful Hidayat (Ahok-Djarot) unggul di semua wilayah dan kemenangan terbesar pasangan ini terletak di wilayah Jakarta Barat dan Kepulauan Seribu.

"Semua daerah hampir merata, Ahok unggul. Jakarta Barat tinggi, saya kira ini basis Ahok. Dan Kepulauan Seribu, walau responden kami kecil di sana, tapi 50 persen responden memilih Ahok," jelas Direktur Eksekutif Charta Politika, Yunarto Wijaya dalam rilis hasil survei, Rabu (1/2). 

Survei bertajuk "Peta Elektoral Cagub dan Cawagub DKI Jakarta Jelang Pencoblosan" ini memiliki sampel sebanyak 767 responden yang tersebar di lima wilayah kota administrasi (Jakarta Utara, Jakarta Selatan, Jakarta Pusat, Jakarta Barat, dan Jakarta Timur) dan satu kepulauan yakni Kepulauan Seribu.

Untuk tren elektabilitas, Yunarto mengatakan, bila dibandingkan dengan survei pada November 2016, pasangan calon Agus-Sylvi mengalami penurunan tajam (29,5 persen menjadi 25,9 persen), Ahok-Djarot meningkat tajam (28,9 persen menjadi 36,8 persen), dan Anies-Sandi stagnan (26,7 persen menjadi 27 persen).

"Kami lihat, undecided voters mengalami penurunan, dari 14,9 persen menjadi 10,3 persen. Makin dekat pemilihan undecided voters menurun," tambah Yunarto.

Berdasarkan survei, ia melanjutkan, sebanyak 199 responden memilih pasangan caon nomor satu karena tegas, program kerjanya, dan ganteng. Sebanyak 282 responden memilih Ahok-Djarot mayoritas karena kinerja yang bagus dan tegas. Sedangkan, Anies-Sandi dipilih oleh 207 responden karena baik, program kerja menarik dan pintar. 

Sementara itu, debat berpengaruh besar terhadap elektabilitas pasangan calon. Menurut Yunarto, debat dan elektabilitas memiliki korelasi yang linear. 

"Pengaruh cukup besar dari pandangan masyarakat Jakarta terhadap kemampuan pasanga calon (lewat debat), (debat) berpengaruh pada pilihan mereka," katanya.

Secara keseluruhan, pasangan calon Ahok-Djarot unggul dalam debat kedua pada 13 Januari (40,5 persen) disusul Anies-Sandi (25,2 persen) dan Agus-Sylvi (24,3 persen). 

"Pasangan yang paling baik dalam visi misi dan program kerja (adalah) Ahok, yang paling baik memberikan solusi juga Ahok," tambah Yunarto.  [src/cnnindonesia]


SANGAT DI LUAR DUGAAN……!!pukul 13.00. langsung dari tv one Ternyata 75% Warga Muslim Sekarang Berbalik Mendukung Ahok,Dikarenakan Ahok Banyak Berjasa Bagi Umat Islam !!!

Ini Alasan GP Ansor Rencanakan Demo di Posko Pemenangan Ahok

SANGAT DI LUAR DUGAAN……!!pukul 13.00. langsung dari tv one Ternyata 75% Warga Muslim Sekarang Berbalik Mendukung Ahok,Dikarenakan Ahok Banyak Berjasa Bagi Umat Islam !!! umat muslim berkata jangan takut ahok aku selalau selalu mendukung mu

Politisi Partai Persatuan Pembangunan(PPP), Triyana Dewi Seroja menegaskan perhatian Gubernur Petahana DKI Jakarta, Basuki Tjahaja Purnama untuk menunjang kegiatan keagamaan umat Islam di Jakarta sangat besar. Selain menambah fungsi Islamic Center di Jakarta Utara menjadi Pusat Perpustakaan Sejarah Islam Indonesia, pasangan Nomor Urut 2 ini juga akan membangun masjid di setiap wilayah DKI Jakarta.

“Ada komitmen Ahok-Djarot membangun masjid seperti Masjid Raya di Daan Mogot dengan luas lahan kurang dari 17 Ha dengan luas bangunan lebih dari 2 Ha. Program pemberdayaan umat seperti ini hampir tidak pernah diperhatikan oleh gubernur-gubernur sebelumnya yang justru beragama Islam,” ujarnya dalam keterangan resmi, Senin (2/1/2017).

Menurut dia, program kemaslahatan umat Islam yang dilakukan pasangan Ahok-Djarot sangat nyata. Diantaranya, membangun Pondok Pesantren dan Asrama di Yayasan Pondok Karya Pembangunan (PKP) Jakarta Timur seluas kurang lebih 18 Ha dengan kapasitas lebih dari 2000 siswa.
Hal ini membuktikan komitmen pasangan Ahok-Djarot terhadap kepentingan umat Islam sangat nyata. Karena itu, sangat tidak masuk akal sehat kalau Ahok dituding menistakan agama Islam. “Wong, jelas kok keberpihakannya bagi umat Islam,” tuturnya.

Tingginya kepedulian Ahok-Djarot bagi kemaslahatan Umat Islam menjadi alasan PPP mendukungnya. Dukungan politik ini diberikan berdasarkan pertimbangan yang matang dengan merujuk rekam jejak Ahok selama memimpin Jakarta.
Bahkan, dukungan PPP ini dikuatkan dalam sebuah Nota Kesepahaman sebagai komitmen dan kelanjutan kepedulian terhadap umat Islam. Adapun point dari Nota Kesepahaman ini diantaranya memberikan anggaran rutin untuk perbaikan dan perawatan setiap masjid dan mushola di wilayah DKI Jakarta.

Selain itu, meningkatkan anggaran untuk kesejahteraan Imam, Muadzin, ustad dan Ustadzah serta Marbot Masjid dan Musholla di Wilayah DKI Jakarta dengan memberikan tunjangan bulanan. “Ini bukan hal biasa, tetapi sangat luar biasa. Kita sudah merasakan, Ahok sudah melakukan banyak hal bagi umat, khususnya umat Islam,”terangnya.

Triyana yang juga Ketua Bidang Hukum dan HAM PPP ini mengatakan dukungan PPP ke pasangan Ahok-Djarot berdasarkan pertimbangan yang matang dari elit partai berlambang Ka’bah itu. Salah satunya, upaya nyata Ahok-Djarot yang banyak berkarya bagi umat Islam.
“Banyak sudah dilakukan Ahok-Djarot. Misalnya memberikan bantuan untuk perbaikan gedung dan biaya operasional untuk Pondok Pesantren di Wilayah DKI Jakarta. Tak hanya itu, Pondok Pesantren Swasta juga melakukan kerjasama pengelolaan dengan Pemprov DKI Jakarta. Jadi, nyata sekali kerja Ahok ini bagi Umat Islam, padahal dia non muslim,” terangnya.
“Jadi, kerja Ahok-Djarot untuk kemaslahatan umat itu sudah nyata. Dan program kemaslahatan umat ini sudah menjadi program Ahok-Djarot ke depan,” tutur Triyana yang juga anggota Tim Advokasi Bhinneka Tunggal Ika BTP.
Tak Mungkin Menodai

Sementara itu, anggota Tim Advokasi Bhinneka Tunggal Ika BTP, Albert Aries mengatakan Indonesia adalah negara dengan penduduk Islam terbesar didunia. “Logikannya, apa mungkin Ahok yang sangat membutuhkan dukungan suara masyarakat ataupun pemilih muslim di pilkada 2017 dengan sengaja menodai agama Islam. Ini sangat tidak mungkin,” jelasnya.
Saat ini, ujarnya, Ahok didakwa dengan pasal alternatif. Dakwaan pertama dengan pasal 156a KUHP. Dan dakwaan kedua dengan pasal penghinaan terhadap ulama. Padahal, bukan ulama yang dimaksudkan oleh Ahok, tetapi oknum politisi yang menggunakan ayat Al Maidah untuk kepentingan politik.

Namun semua tudingan itu sebenarnya terbantahkan dengan kebijakan ataupun keputusan penting Ahok yang terus berusaha mensejahterakan umat Islam saat memimpin Jakarta. “Contohnya, menaikkan haji, umroh, bangun masjid dll. Kalau dia benci Islam, nggak mungkin dia melakukan itu,” tuturnya.
nontonfilm21.co

Menurutnya, pasal 156 KUHP yang didakwakan ke Ahok adalah pasal karet. Apalagi di negara-negara beradab, pasal ini dicabut karena banyak memakan korban. “Belanda, Islandia dan beberapa negara lain, sudah mencabut. Kalaupun ada delik penodaan agama, mestinya harus jelas. Misalnya, menginjak-injak kitab suci atau membakar rumah ibadah. Ini baru penodan agama. Sekali lagi, tidak ada niat atau maksud dari Ahok menodai agama Islam,” tegasnya.
Lebih lanjut dia mengatakan negara ini dibangun bukan berdasarkan agama atau suku, tetapi dibangun atas dasar Pancasila dan Bhinneka Tunggal Ika. Karena itu, siapun mempunyai hak yang sama untuk menjadi pemimpin di DKI Jakarta, termasuk menjadi Presiden di Indonesia. “Konsitusi kita sudah menjamin, siapapun punya hak politik yang sama,” pungkasnya.
nontonfilm21.co
Facebook Comments

Recent search terms:

mayoritas muslim berbalik mendukung ahok
75% muslim dukung ahok
ternyata 75%MUSLIM DUKUNG AHOK
ulama dukung ahok
umat beragama dukung umat islam
umat islam berbalik dukung ahok
umat islam dukung ahok
vidio sabung ayam com2017
warga jakarta banyak yang mendukung siapa
75 warga muslim dukung ahok

http://www.bbcgroub.com/2017/02/sangat-di-luar-dugaanpukul-1300.html?m=1

Thursday, February 2, 2017

5 tahun. menjadi orang keturunan dan menjadi kristen dinegeri yang besar ini, bukanlah perkara mudah

Foto Deny Santo.

5 tahun.
menjadi orang keturunan dan menjadi kristen dinegeri 
yang besar ini, bukanlah perkara mudah.


Apalagi menjadi 
Seorang gubernur dengan status minoritas dari lahir. 
selama 5 tahun menjadi pelayan publik, diri ini tidak pernah
menikmati gelimangan harta layaknya pejabat2 yg sudah-sudah.
jangankan harta, sedikit rasa hormatpun saya tidak dapat, malah caci maki, sumpah serapah bahkan ancaman pembunuhan yang saya dapat.

Apa yang sudah saya lakukan,?
apakah saya menindas mereka?
apakah saya membunuh mereka?

saya hanya menjalankan amanah yg diberi kepada saya dan memastikan semua orang mendapatkan proporsi yang
adil untuk hidup dikota ini.
selama 5 tahun ini juga ada hal-hal yang aneh
ketika saya menegur para pencuri, saya dituduh kasar.
ketika saya menindak para mafia tanah , saya dituduh kongkalikong dengan pengusaha.
aneh

saya juga manusia biasa layaknya anda, mempunyai kekurangan.
jika nanti saya tidak terpilih saya, ya sudahlah,
toh itu juga hak mereka untuk mendapatkan orang yg lebih baik daripada saya,
yang terpenting saya sudah menjalankan tanggung jawab saya sebagai warga negara.
jika hakim nanti memutuskan saya bersalah dan dipenjara,
yah saya harus menjalani hukuman saya.
jika semuanya sudah selesai,
mungkin saya akan meninggalkan negeri ini....
mencari penghidupan yg baru diluar
mungkin orang diluar lebih menghargai kerja dan usaha saya,
walaupun sedikit tetapi tak apalah, yang terpenting mereka menghargai kerja saya.
setidaknya selama 5 tahun ini, saya rasa cukup untuk menjadi bekal saya untuk memimpin organisasi ataupun perusahaan yg ada diluar negeri.

jujur saja saya lelah
saya juga sama seperti anda semua, menginginkan kehidupan yang lebih baik dan lebih bahagia,
tetapi satu yang anda perlu tahu, kebahagiaan yang terbesar yang saya inginkan adalah membantu anda mendapatkan hak yg sudah sepantasnya menjadi milik anda sebagai sesama warga dari negara tercinta ini.
diakhir kata jika saya pada nantinya tidak terpilih,
saya mengucapkan terima kasih atas dukungan dan kerja samanya untuk anda semua yang telah membantu saya dalam menjalankan tugas saya sebagai pelayan publik selama 5 tahun ini.
jika nanti saya terpilih lagi, saya berusaha lebih baik dari sebelumnya dalam melayani anda.

terima kasih. Pak ahok.

Friday, January 6, 2017

Peneliti LIPI: Tidak Hanya Kehilangan Ahok, Tapi Bisa Kehilangan Indonesia

Peneliti LIPI: Tidak Hanya Kehilangan Ahok, Tapi Bisa Kehilangan Indonesia


Peneliti Senior Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Syamsuddin Haris menilai kasus penodaan agama yang dialamatkan kepada Gubernur Petahana DKI Jakarta, Basuki Tjahaja Purnama menjadi momentum pembuktian demokrasi di Indonesia.
“Proses pengadilan ini sebagai momen bagi kita semua, apakah hukum politik dan demokrasi di negeri ini akan ditentukan oleh tekanan massa atau akan ditentukan oleh akal sehat,” kata Syamsuddin dalam diskusi bertajuk Kriminalisasi SARA dalam Pilkada Sebagai Penistaan Demokrasi di Rumah Lembang, Jakarta, Rabu (4/1).
Menurut Syamsuddin, jika pada akhirnya tekanan massa yang dipilih oleh Majelis Hakim maka dampaknya bukan hanya pada kegagalan Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok menjadi Gubernur DKI Jakarta, akan tetapi dampaknya akan berada pada kehancuran negara dalam menjaga komitmen fundamental bangsa.
Karenanya, Syamsuddin mengajak seluruh masyarakat Indonesia untuk bersama-sama menolak upaya untuk mencederai keberagaman yang dipolitisasi dalam kasus Ahok.
“Upaya mencederai keberagaman itu mestinya kita tolak. Kalau kita tidak tolak, maka kita bukan hanya kehilangan Ahok akan tetapi sama saja kita kehilangan Indonesia. Karena tidak ada Indonesia jika tidak ada keberagaman,” kata Kepala Pusat Penelitian Politik (P2P) LIPI ini.
Profesor Riset bidang perkembangan politik Indonesia lulusan Fisip Universitas Indonesia ini menganggap kejadian ini sebagai ujian sekaligus tantangan bagi umat muslim saat ini dalam menghadapi Islam yang mulai menuju ke arah monokultur.
“Islam yang menuju ke arah monokultur ini menjadi tantangan bagi organisasi Islam besar di Indonesia seperti Nahdlatul Ulama (NU) dan Muhammadiyah, seberapa besar peran mereka dalam mencegah hal ini,” kata Syamsuddin. (DS/AK)
http://www.infonawacita.com/peneliti-lipi-tidak-hanya-kehilangan-ahok-tapi-bisa-kehilangan-indonesia/

Ahok adalah satu-satunya CaGub DKI 2017 peraih Penghargaan ANTI KORUPSI

Foto Punggawa Hati.

Ahok adalah satu-satunya CaGub DKI 2017 peraih Penghargaan ANTI KORUPSI

Foto Vic Hasibuan.

Dia dikorbankan.
Dia dizolimi.
Dia dibenci.

Tapi dia tidak Pernah Gentar !
Tapi dia tidak pernah Lari.
Tapi dia tidak pernah memusuhi orang yg membencinya

Ayo, katakan LAWAN !!
untuk semua itu.
Kita Pendukung akan tetap berada di garis terdepan.
Untuk membela nya.

Ayo BUKTIKAN dukunganmu !
Jangan lupa 15"Feb 2017. 1 putaran !
Mana SUARA mu ..

Wednesday, January 4, 2017

Biarpun Bumi berguncang JOKOWI tetap presidenku



Ferdy Syahputra Irawan
9 jam

Biarpun Bumi berguncang
JOKOWI tetap presidenku
Walaupun manusia jin setan dan iblis
Menghina dan melecehkan Jokowi diluar sana.
Masih banyak yang memujinya karena sikapnya yang rendah hati dan apa adanya.
Dan dia pantas digelar "PEMIMPIN SEJATI"
Biarpun badai menerjang
BASUKI (Ahok) tetap Gubernur Jakarta
Walaupun begitu banyak Fitnahan yang menyudutkannya.Dia tak pernah menyerah sedikitpun. JATUH selalu ada orang orang baik yang merangkulnya. Itu karena jiwa kepemimpinannya yang jujur dan Amanah yang pantas di gelar sebagai "PEMIMPIN SEJATI"
Pemilik hati yang baik akan berpihak pada yang baik pula.Sedangkan pemilik hati yang buruk dan kotor akan berpihak pada Yang buruk Pula.seperti mereka yang suka mencela, menghina dan melecehkannya bahkan tidak segan segan untuk membuat Fitnah yang mengada ada.Lihatlah apa yang menjadi Pilihan mereka.dan Ketahuilah hati yang bersih akan menuntun jiwa jiwa yang baik untuk merangkulnya. sedangkan hati yang buruk akan memaksa jiwa jiwa yang jahat untuk memihaknya.
Begitulah manusia yang buta mata buta Pula hatinya lemah Pula imannya karena selalu dibutakan oleh harta dan tahta (Ego & prasangka)
Mari kita Berdoa
LINDUNGI PRESIDEN KAMI JOKOWI YA RABB
DARI MANUSIA JIN DAN SETAN SETAN YANG SUKA MEMELIHARA KEBENCIAN.
Begitu JuGa Selamatkanlah Bapak Ahok Ya Rabb Bapak (Basuki Cahaya Purnama) yang sedang berjuang membela keadilan untuk dirinya dalam proses hukum yang menjeratnya... Aamiin
Aamiin Aamiin Ya Rabbal 'Alamin...

Sunday, January 1, 2017

Ayo kita lawan ketidakadilan dengan cara yang santun

Foto Fatta Hitijahubessy.

Selamat pagi Saudaraku sekalian dari Sabang sampai Merauke, dari Miangas sampai Pulau Rote....

Ayo kita lawan ketidakadilan dengan cara yang santun, tidak perlu pake demo....

Biar Dunia tahu bahwa Ahok tidak bersalah!!!

Tuesday, December 13, 2016

Buat yg belum sempat nonton persidangan kasus yg dipaksakan, ini dibaca dulu ya !!


Buat yg belum sempat nonton persidangan kasus yg dipaksakan, ini dibaca dulu ya !!
Bapak Ketua Majelis Hakim, dan Anggota Majelis Hakim yang saya muliakan,
Sdr. Jaksa Penuntut Umum yang saya hormati,
Penasihat Hukum dan Para Hadirin yang saya hormati,
Pertama-tama saya ingin menyampaikan terima kasih kepada Majelis Hakim atas kesempatan, yang diberikan kepada Saya.
Berkaitan dengan persoalan yang terjadi saat ini, dimana saya diajukan di hadapan sidang, jelas apa yang saya utarakan di Kepulauan Seribu, bukan dimaksudkan untuk menafsirkan Surat Al-Maidah 51 apalagi berniat menista agama Islam, dan juga berniat untuk menghina para Ulama. Namun ucapan itu, saya maksudkan, untuk para oknum politisi, yang memanfaatkan Surat Al-Maidah 51, secara tidak benar karena tidak mau bersaing secara sehat dalam persaingan Pilkada.
Ada pandangan yang mengatakan, bahwa hanya orang tersebut dan Tuhan lah, yang mengetahui apa yang menjadi niat pada saat orang tersebut mengatakan atau melakukan sesuatu. Dalam kesempatan ini di dalam sidang yang sangat Mulia ini, saya ingin menjelaskan apa yang menjadi niat saya pada saat saya berbicara di Kepulauan Seribu tersebut.
Dalam hal ini, bisa jadi tutur bahasa saya, yang bisa memberikan persepsi, atau tafsiran yang tidak sesuai dengan apa yang saya niatkan, atau dengan apa yang saya maksudkan pada saat saya berbicara di Kepulauan Seribu.
Majelis Hakim yang saya muliakan.
Ijinkan saya untuk membacakan salah satu Sub-judul dari buku saya, yang berjudul “Berlindung Dibalik ayat suci” ditulis pada tahun 2008. Saya harap dengan membaca tulisan di buku tersebut, niat saya yang sesungguhnya bisa dipahami dengan lebih jelas, isinya sebagai berikut, saya kutip : ​
Selama karir politik saya dari mendaftarkan diri menjadi anggota partai baru, menjadi ketua cabang, melakukan verifikasi, sampai mengikuti Pemilu, kampanye pemilihan Bupati, bahkan sampai Gubernur, ada ayat yang sama yang saya begitu kenal digunakan untuk memecah belah rakyat, dengan tujuan memuluskan jalan meraih puncak kekuasaan oleh oknum yang kerasukan “roh kolonialisme”.
Ayat ini sengaja disebarkan oleh oknum-oknum elit, karena tidak bisa bersaing dengan visi misi program, dan integritas pribadinya. Mereka berusaha berlindung dibalik ayat-ayat suci itu, agar rakyat dengan konsep “seiman” memilihnya.
Dari oknum elit yang berlindung dibalik ayat suci agama Islam, mereka menggunakan surat Almaidah 51. Isinya, melarang rakyat, menjadikan kaum Nasrani dan Yahudi menjadi pemimpin mereka, dengan tambahan, jangan pernah memilih kafir menjadi pemimpin. Intinya, mereka mengajak agar memilih pemimpin dari kaum yang seiman.
Padahal, setelah saya tanyakan kepada teman-teman, ternyata ayat ini diturunkan pada saat adanya orang-orang muslim yang ingin membunuh Nabi besar Muhammad, dengan cara membuat koalisi dengan kelompok Nasrani dan Yahudi di tempat itu. Jadi, jelas, bukan dalam rangka memilih kepala pemerintahan, karena di NKRI, kepala pemerintahan, bukanlah kepala agama/Imam kepala. Bagaimana dengan oknum elit yang berlindung, dibalik ayat suci agama Kristen? Mereka menggunakan ayat disurat Galatia 6:10. Isinya, selama kita masih ada kesempatan, marilah kita berbuat baik kepada semua orang, tetapi terutama kepada kawan-kawan kita seiman.
Saya tidak tahu apa yang digunakan oknum elit di Bali yang beragama Hindu, atau yang beragama Budha. Tetapi saya berkeyakinan, intinya, pasti, jangan memilih yang beragama lain atau suku lain atau golongan lain, apalagi yang ras nya lain. Intinya, pilihlah yang seiman/sesama kita (suku, agama, ras, dan antar golongan). Mungkin, ada yang lebih kasar lagi, pilihlah yang sesama kita manusia, yang lain bukan, karena dianggap kafir, atau najis, atau binatang!
Karena kondisi banyaknya oknum elit yang pengecut, dan tidak bisa menang dalam pesta demokrasi, dan akhirnya mengandalkan hitungan suara berdasarkan se-SARA tadi, maka betapa banyaknya, sumber daya manusia dan ekonomi yang kita sia-siakan. Seorang putra terbaik bersuku Padang dan Batak Islam, tidak mungkin menjadi pemimpin di Sulawesi. Apalagi di Papua. Hal yang sama, seorang Papua, tidak mungkin menjadi pemimpin di Aceh atau Padang.
Kondisi inilah yang memicu kita, tidak mendapatkan pemimpin yang terbaik dari yang terbaik. Melainkan kita mendapatkan yang buruk, dari yang terburuk, karena rakyat pemilih memang diarahkan, diajari, dihasut, untuk memilih yang se-SARA saja. Singkatnya, hanya memilih yang seiman (kasarnya yang sesama manusia).
​
Demikian kutipan dari buku yang saya tulis tersebut.
Majelis Hakim yang saya muliakan.
Dalam kehidupan pribadi, saya banyak berinteraksi dengan teman-teman saya yang beragama Islam, termasuk dengan keluarga angkat saya Almarhum Haji Andi Baso Amier yang merupakan keluarga muslim yang taat.
Selain belajar dari keluarga angkat saya, saya juga belajar dari guru-guru saya, yang taat beragama Islam dari kelas 1 SD Negeri, sampai dengan kelas 3 SMP Negeri. sehingga sejak kecil sampai saat sekarang, saya tahu harus menghormati Ayat-Ayat suci Alquran.
Jadi saya tidak habis pikir, mengapa saya bisa dituduh sebagai penista Agama Islam.

Saya lahir dari pasangan keluarga non-muslim, Bapak Indra Tjahaja Purnama dan Ibu Buniarti Ningsih (Tjoeng Kim Nam dan Bun Nen Caw), tetapi saya juga diangkat sebagai anak, oleh keluarga Islam asal Bugis, bernama Bapak Haji Andi Baso Amier , dan Ibu Hajjah Misribu binti Acca. Ayah angkat saya, Andi Baso Amier adalah mantan Bupati Bone, tahun 1967 sampai tahun 1970, beliau adik kandung mantan Panglima ABRI, Almarhum Jenderal TNI (Purn.) Muhammad Jusuf.
Ayah saya dengan ayah angkat saya, bersumpah untuk menjadi saudara sampai akhir hayatnya.
Kecintaan kedua orangtua angkat saya kepada saya, sangat berbekas, pada diri saya, sampai dengan hari ini.
Bahkan uang pertama masuk kuliah S2 saya di Prasetya Mulya, dibayar oleh kakak angkat saya, Haji Analta Amir.
Saya seperti orang yang tidak tahu berterima kasih, apabila saya tidak menghargai agama dan kitab suci orang tua dan kakak angkat saya yang Islamnya sangat taat.
Saya sangat sedih, saya dituduh menista agama Islam, karena tuduhan itu, sama saja dengan mengatakan saya menista orang tua angkat dan saudara-saudara angkat saya sendiri, yang sangat saya sayangi, dan juga sangat sayang kepada saya. Itu sebabnya ketika Ibu angkat saya meninggal, saya ikut seperti anak kandung, mengantar dan mengangkat keranda beliau, dari ambulans sampai ke pinggir liang lahat, tempat peristirahatan terakhirnya, di Taman Pemakaman umum Karet Bivak.
Sampai sekarang, saya rutin berziarah ke makam Ibu angkat, di Karet Bivak. Bahkan saya tidak mengenakan sepatu atau sendal saat berziarah, untuk menghargai keyakinan dan tradisi orang tua dan saudara angkat saya itu.
Yang membuat saya juga selalu mengingat almarhumah Ibu angkat saya, adalah peristiwa, pada saat saya maju, sebagai calon wakil Gubernur DKI Jakarta tahun 2012.
Pada hari pencoblosan, walaupun Ibu angkat saya, sedang sakit berat dalam perjalanan ke rumah sakit, dengan menggunakan mobil kakak angkat saya Haji Analta, ibu angkat saya, sengaja, meminta mendatangi tempat pemungutan suara untuk memilih saya. Padahal kondisinya sudah begitu kritis.
Dari tempat pemungutan suara, barulah beliau langsung, menuju ke rumah sakit, untuk perawatan lebih lanjut di ICU.
Setelah dirawat selama 6 (enam) hari, Ibu berdoa dan berkata kepada saya dan masih terus saya ingat dan masih akan saya ingat, kata beliau: “SAYA TIDAK RELA MATI, SEBELUM KAMU MENJADI GUBERNUR. ANAKKU, JADILAH GUBERNUR YANG MELAYANI RAKYAT KECIL.”
Ternyata Tuhan mengabulkan doa Ibu angkat saya.
Beliau berpulang tanggal 16 Oktober 2014, setelah ada kepastian Bapak Jokowi menjadi Presiden, dan saya juga sudah dipastikan menjadi Gubernur, menggantikan Bapak Jokowi. Pesan dari Ibu angkat saya selalu saya camkan , dalam menjalankan tugas saya, sebagai Gubernur DKI Jakarta.
Majelis Hakim yang saya muliakan.
Sebelum menjadi pejabat, secara pribadi, saya sudah sering menyumbang untuk pembangunan mesjid di Belitung Timur, dan kebiasaan ini, tetap saya teruskan saat saya menjabat sebagai Anggota DPRD Tingkat II Belitung Timur, dan kemudian sebagai Bupati Belitung Timur. Saya sudah menerapkan banyak program membangun Masjid, Mushollah dan Surau, dan bahkan merencanakan membangun Pesantren, dengan beberapa Kyai dari Jawa Timur. Saya pun menyisihkan penghasilan saya, sejak menjadi pejabat publik minimal 2,5% untuk disedekahkan yang di dalam Islam, dikenal sebagai pembayaran Zakat, termasuk menyerahkan hewan Qurban atau bantuan daging di Hari Raya Idul Fitri dan Idul Adha.
Saya juga mengeluarkan kebijakan-kebijakan, termasuk untuk menggaji guru-guru mengaji, dan menghajikan Penjaga Masjid/Musholla (Marbot atau Muadzin) dan Penjaga Makam.
Hal-hal yang telah saya lakukan di Belitung Timur, saat menjabat sebagai Bupati, saya teruskan ketika tidak menjadi Bupati lagi, sampai menjadi anggota DPR RI daerah pemilihan (dapil) Bangka Belitung, sebagai Wakil Gubernur dan juga, sebagai Gubernur DKI Jakarta saat ini pun tetap saya lakukan.
Ketika menjadi Gubernur DKI Jakarta, saya juga membuat banyak kebijakan, diantaranya kebijakan agar di bulan Suci Ramadhan, para PNS dan honorer, bisa pulang lebih awal, dari aturan lama jam 15.00 WIB saya ubah menjadi jam 14.00 WIB, agar umat Muslim dapat berbuka puasa bersama keluarga di rumah, sholat magrib berjamaah, dan bisa tarawih bersama keluarganya.
Saya juga ingin melihat Balaikota mempunyai Masjid yang megah untuk PNS, sehingga bisa melaksanakan ibadahnya, ketika bekerja di Balaikota. Karena itu, Pemda membangun Masjid Fatahillah di Balaikota.
Di semua rumah susun (rusun) yang dibangun PEMDA, juga dibangun Masjid. Bahkan di Daan Mogot, salah satu rusun yang terbesar, kami telah membangun Masjid besar, dengan bangunan seluas 20.000 m2, agar mampu menampung seluruh umat muslim yang tinggal di rusun Daan Mogot. Kami jadikan masjid tersebut sebagai salah satu Masjid Raya di Jakarta.
Kami akan terus, membangun Masjid Raya/besar, di setiap rusun, kami akan terus membantu perluasan Masjid yang ada, dengan cara PEMDA akan membeli lahan yang ada di sekitar Masjid, sebagaimana beberapa kali telah saya sampaikan dalam pertemuan-pertemuan dengan tokoh-tokoh Islam maupun Pengurus Dewan Masjid Indonesia di Balaikota.
Para Marbot dan penjaga makam juga PEMDA Umrohkan. Kami juga membuat kebijakan bagi PNS, menjadi pendamping Haji kloter DKI Jakarta.
Saya berharap bisa melaksanakan amanah orang tua dan orang tua angkat saya untuk melanjutkan tugas saya sebagai Gubernur di periode yang akan datang, sehingga cita-cita saya untuk memakmurkan umat Islam di Jakarta dapat terwujud.
Majelis Hakim yang saya muliakan.
Saya berani mencalonkan diri sebagai Gubernur, sesuai dengan amanah yang saya terima dari almarhum Gus Dur, bahwa Gubernur itu bukan pemimpin tetapi pembantu atau pelayan masyarakat.
Itu sebabnya, dalam pidato saya setelah pidato almarhum Gus Dur pada tahun 2007, saya juga mengatakan bahwa menjadi calon Gubernur, sebetulnya saya melamar untuk menjadi pembantu atau pelayan rakyat.
Apalagi, saya melihat adanya fakta, bahwa ada cukup banyak partai berbasis Islam, seperti di Kalimantan Barat, Maluku Utara, dan Solo juga mendukung calon Gubernur, Bupati, Walikota non-Islam di daerahnya.
Untuk itu, saya mohon ijin kepada Majelis Hakim, untuk memutar video Gus Dur yang meminta masyarakat memilih Ahok sebagai Gubernur saat Pilkada Bangka Belitung tahun 2007, yang berdurasi sekitar 9 (Sembilan) menit.
Majelis Hakim yang saya muliakan.
Saya ini hasil didikan orang tua saya, orang tua angkat saya, Ulama Islam di lingkungan saya, termasuk Ulama Besar yang sangat saya hormati, yaitu Almarhum Kyai Haji Abdurahman Wahid.
Yang selalu berpesan, menjadi pejabat publik sejatinya adalah menjadi pelayan masyarakat. Sebagai pribadi yang tumbuh besar di lingkungan umat Islam, tidaklah mungkin saya mempunyai niat untuk melakukan penistaan Agama Islam dan menghina para Ulama, karena sama saja, saya tidak menghargai, orang-orang yang saya hormati dan saya sangat sayangi.
Majelis Hakim yang saya muliakan.
Apa yang saya sampaikan di atas, adalah kenyataan yang sungguh-sungguh terjadi. Dan saya juga berharap penjelasan saya ini, bisa membuktikan tidak ada niat saya, untuk melakukan penistaan terhadap Umat Islam, dan penghinaan terhadap para Ulama. Atas dasar hal tersebut, bersama ini saya mohon, agar Majelis Hakim yang Mulia, dapat mempertimbangkan Nota Keberatan saya ini, dan selanjutnya memutuskan, menyatakan dakwaan Saudara Jaksa Penuntut Umum tidak dapat diterima, atau batal demi hukum. sehingga saya dapat kembali, melayani warga Jakarta dan membangun kota Jakarta.
Majelis Hakim yang Mulia, terima kasih atas perhatiannya. Kepada Jaksa Penuntut Umum, serta Penasehat Hukum, saya juga ucapkan terima kasih.
Jakarta, 13 Desember 2016
Hormat saya,
Basuki Tjahaja Purnama

Adikku Ini Baik Sekali, Isak Tangis Nana Kakak Angkat Ahok


Pintu gerbang pengadilan dijaga ratusan personel Brimob. Para polisi wanita muda membuat pagar hidup di pintu gerbang pengadilan. Aku mencoba masuk. Seorang polisi menahan.
“Tidak boleh masuk Pak”, ujar Pak Polisi. Aku memberi penjelasan bahwa persidangan terbuka untuk umum. Tetap saja polisi itu melarang karena belum ada izin dari komandannya.
Sorakan dan teriakan Tangkap Ahok !! Tangkap Ahok !!, semakin kencang. Aku bertahan di kerumunan depan pintu gerbang pengadilan. Aparat sibuk mengatur barisan massa agar tidak menghalangi pengguna jalan. Jalan mulai macet karena massa telah menyemut.
Aku menerobos penjagaan aparat yang begitu ketat. Kali ini aku menyelip di antara massa yang ingin masuk ke dalam gedung. Aku harus masuk, itu tekadku. Suara dari megaphone polisi memberi izin 25 orang lagi pengunjung umum boleh masuk. Setelah berjuang keras akhirnya aku bisa masuk bersama dengan pengunjung lain.
Ruang sidang pengadilan menjorok jauh ke dalam. Setiap orang harus melalui pintu metal detector. Semua diperiksa ketat. Badan saya juga diperiksa seorang polisi.
Di ruang sidang kursi sudah terisi penuh. Beberapa orang terpaksa berdiri. Kursi kayu panjang cuma muat untuk empat orang. Aku minta ijin duduk di barisan depan tengah kursi nomor dua. Di depanku duduk Ruhut Sitompul dan Edi Prasetyo. Di kursi kiri depan nampak abang angkat Ahok, Andi Ananta Amir juga ikut menemani Ahok.
Di dalam ruang sidang cukup tertib. Jauh berbeda dengan di luar gedung yang riuh suara pendemo yang teriak teriak tangkap Ahok kafir. Kami menunggu hampir 40 menit. Aku melihat beberapa orang berpakaian ormas FPI, GNPF juga ada dalam ruang sidang.
Puluhan penasihat hukum Ahok terlihat mempersiapkan diri. Demikian juga Jaksa Penuntut Umum. Sekitar pukul 09.00 Wib panitera memberi tahu ketentuan dan tata tertib persidangan.
Ahok masuk ke dalam ruang sidang dari pintu sayap kiri. Ia memakai baju batik coklat lengan panjang padu celana hitam. Kami diminta berdiri karena Majelis Hakim memasuki ruangan.
Hakim membuka persidangan dengan memberi kesempatan kepada Jaksa membacakan dakwaannya. Jaksa Penuntut umum membaca dakwaan persis seperti berita selama ini. Pidato Ahok di Kepulauan Seribu dijadikan dasar sangkaan penistaan agama sesuai Pasal 156 KUHP.
Usai Jaksa membaca dakwaannya, Hakim Ketua memberi kesempatan Ahok membacakan nota keberatannya. Ahok membacakan nota keberatan pribadinya.
Awalnya Ahok berbicara dengan lancar dan jelas nota keberatannya. Ia menjelaskan sejarah perjalanan hidupnya. Ia membuka dengan kalimat pembuka cerita perjalanan karirnya sejak menjadi pengurus partai di Belitung Timur hingga menjadi seorang gubernur.
Semua proses pembentukan pribadinya dipengaruhi oleh guru gurunya di sekolah Islam Belitung Timur. Teman temannya, ulama, ayah kandung dan ayah angkatnya Andi Amir Baso yang juga adik kandung Panglima ABRI 1980an Jenderal M Yusuf.
Tiba-tiba suasana sidang terasa hening. Semua mata dan telinga ikut mendengar suara Ahok yang berubah serak dan terbata. Ahok berhenti bicara, lalu terisak menahan tangis saat menceritakan kisah ayah kandungnya yang bersumpah dengan ayah angkatnya seorang mantan Bupati Bone 1967 -1970, H. Andi Baso Amir, seorang muslim taat. Kedua keluarga ini bersumpah bahwa keluarga mereka adalah saudara sampai akhir hayat.
Ahok beberapa kali menghentikan ceritanya karena menahan tangis. Ia menarik nafas dalam mencoba menahan emosinya. Beberapa kali tisu diberikan oleh tim penasihat hukumnya. Ahok mengambil tisu itu. Mengelap air matanya.
Di luar sana teriakan suara pendemo pakai pengeras suara meneriakkan “AHOK KAFIR!! KAFIR!! TANGKAP AHOK!!”, terdengar menembus dinding ruang sidang pengadilan.
Saya yang mengambil siaran langsung juga ikut berkaca kaca menahan sedih atas ekspresi Ahok. Saya melihat banyak pengunjung juga ikut menangis. Ruhut Sitompul yang duduk di samping saya juga ikut menangis. Beberapa kali Ia menghapus air matanya dengan sapu tangan.
“Bapak Majelis Hakim Yang Mulia.. Saya tidak habis pikir bagaimana bisa tuduhan menista agama Islam ini bisa didakwakan kepada saya.
Saya seperti orang tidak tahu berterimakasih jika saya menghina agama orang tua angkat saya yang saya sayangi. Agama yang sangat saya hormati sejak saya kecil.
Bagaimana mungkin saya menista agama ayah angkat saya? Ayah angkat dan saudara saya yang sangat saya hormati?”, ucap Ahok dengan suara serak menahan tangis.
Saya melihat kesenduan dari balik badan Ahok yang memunggungi kami. Ia tidak rela dakwaan menista agama Islam ditimpakan kepadanya. Itu artinya dirinya telah mengkhianati sumpah setia saudara sehidup semati dengan keluarga angkatnya H. Andi Amir Baso yang beragama Islam taat.
Pukul 11.40 WIB, sidang ditutup. Ahok berdiri dan menyalami majelis Hakim. Ruhut Sitompul langsung berjalan mendekati Ahok. Aku berdiri memanggil Ahok. Mengharap bisa menjabat tangannya sekedar memberi penghiburan agar tetap tegar.
Ruhut menarik Ahok. Mereka berjalan cepat keluar ke arah belakang. Aku mengekor bersama abang angkat Ahok. Ahok bersama Ruhut Sitompul dan Edi Prasetyo berjalan cepat naik ke lantai dua. Mereka masuk ke sebuah ruangan ukuran 2×3. Aku ikut masuk. Ada tujuh orang di dalam ruangan itu.
Di ujung meja itu Ahok duduk. Di sampingnya Edi Prasetyo dan Ruhut Sitompul. Mereka berbicara ringan. Aku duduk di samping Ruhut Sitompul. Di depanku duduk abang angkat Ahok Andi Ananta Amir.
Tiba-tiba seorang perempuan paruh baya berbaju kurung biru padu jilbab merah muda mendekati Ahok. Perempuan paruh baya itu menarik perhatian kami. Ia mendekap Ahok dari belakang. Mencium pipi Ahok sambil sesunggukan.
Ahok menutup matanya. Pelukan perempuan paruh baya itu membuat Ahok menarik nafas panjang. Ahok seakan sedang didekap ibu angkat yang sangat disayanginya.
Ibu angkat yang selalu memberi semangat dan selalu mendoakannya ketika orang-orang menghujatnya. Perempuan paruh baya itu semakin terisak. ” Huhuhuhu..Adikku ini baik sekali orangnya..huhuhuhu”, sedu perempuan baya itu sambil terus mendekap erat Ahok.
Mataku berkaca kaca melihat adegan menyayat hati ini. Aku bertanya pada abang angkat Ahok, siapa gerangan perempuan paruh baya itu. ” Dia kakak kandungku, Nana Riwayati”, jelas abang kandung Ahok.
Kakak adik berbeda iman dan suku yang disatukan oleh sumpah cinta kedua ayah mereka kini saling berpelukan dalam ruang pengadilan. Nana terus mendekap Ahok. Ia menangis tak peduli orang disekelilingnya juga terharu melihatnya.
Ahok menepuk tangan perempuan paruh baya itu. Ia menepuk tangan kakak angkatnya seolah berkata “Tidak apa apa kak…sudahlah jangan menangis lagi”. Ahok memberi tisu kepada kakak angkatnya itu.
Di depanku, aku melihat abang angkat Ahok menundukkan kepalanya. Matanya tidak mampu menahan buliran air mata yang keluar dari pelupuk matanya. Ia tidak tahan melihat kakak kandungnya Nana menangis sambil mendekap erat Ahok. Ia heran mengapa saudara saudaranya seiman menghujat Ahok sebagai penista agama Islam, padahal Ia tahu Ahok sangat menghormati agama Islam.
Aku mendekati Ahok. Aku ingin menjabat tangannya. “Pak Ahok, saya Birgaldo Sinaga, tetap tegar dan kuat ya Pak, kami mendukung Bapak. Kami yakin Pak Ahok bisa melewati cobaan ini”, ujarku sambil menepuk pundak Ahok.
“Oh iya..siapa? Birgaldo Sinaga? Ya..ya..saya ingat. Saya sering membaca tulisan saudara. Terimakasih ya.”, ujar Ahok tulus sambil menjabat erat tanganku.
Aku tertegun. Tidak menyangka Ahok mengenal namaku. Padahal aku belum pernah bicara dengannya. Beberapa kali jumpa tapi sekedar selfie.
Polisi masuk ruangan. Mengajak Ahok agar segera keluar gedung pengadilan. Kami menyalaminya. Aku masih melihat matanya sembab. Ia memeluk abang angkatnya. Andi memeluk sambil menahan tangis. Nana, kakak angkat Ahok membisikkan sesuatu. Ahok mengangguk. Mereka berpelukan.
Ahok dan polisi melangkah cepat. Puluhan personel mengawal Ahok melewati koridor. Di luar gedung, pendemo semakin bergelora meneriakkan hujatan Tangkap Ahok..Tangkap Kafir Ahok.
Aku mendekati Nana. “Bu tadi ibu menangis sambil memeluk Ahok. Ibu bilang adikku ini baik sekali”, tanyaku ingin tahu.
“Iya..Adikku Ahok itu orang paling baik. Setiap bertemu, Ahok selalu bilang harapannya ingin menolong umat muslim yang susah dan miskin. Ia selalu bilang akan memperjuangkan kebijakan menaikkan martabat orang susah dan miskin”, ujar Nana masih dalam gurat sedih. Aku mengangguk. Nana mengejar Ahok dari belakang.
Kami berpisah. Aku berjalan bersama Bu Yen seorang relawan Ahok menerobos barisan polisi.
Koh Ahok…aku kehabisan kata untuk membesarkan hatimu. Ijinkanlah aku menuangkan segelas air putih lagi untuk menyegarkan jiwamu yang sedang dihimpit oleh orang orang yang berharap agar kau jatuh tergeletak tak berdaya.
Tetaplah tegar dan kuat ya Koh Ahok… Aku berharap cukuplah air matamu hanya di persidangan perdana ini. Esok… percayalah kebenaran akan mendekap dan memelukmu…karena orang benar tidak bisa dikalahkan sekalipun sejuta orang berusaha menginjak-injak wajahmu.
Salam perjuangan
https://seword.com/politik/adikku-ini-baik-sekali-isak-tangis-nana-kakak-angkat-ahok/