Latest News

Showing posts with label Artikel. Show all posts
Showing posts with label Artikel. Show all posts

Saturday, August 8, 2015

Iwan Fals: Menghina Presiden Menghina Rakyat



Iwan Fals: Menghina Presiden Menghina Rakyat

JAKARTA, kabarjabarnews.com - Musisi legendaris Virginiawan Listanto atau akrab disapa Iwan Fals angkat bicara terkait mengenai adanya kabar seorang Menteri yang telah menghina Presiden Joko Widodo. 

Iwan Fals, musisi penembang lagu balada yang selalu kental dengan kritik sosial lewat lirik lagunya itu pun mengingatkan bahwa siapa-pun yang menghina Presiden berarti menghina rakyat.

"Presiden dipilih DPR, DPR dipilih rakyat, berarti kalau ada yang menghina presiden- nya ya berarti menghina rakyat dong," tulis Iwan Fals di sebuah akun Twitternya @Iwanfals.

Menurut pelantun lagu 'Belalang Tua' itu, seorang Menteri harusnya membantu atasannya, bukan malah menghina presiden. Sebab, menghina Presiden sama saja dengan menghina rakyat.

"Oh iya ya langsung dipilih rakyat, wah ini lebih gawat lagi, Presiden enggak boleh dicolek sembarangan tuh, rakyat bisa ngamuk," ujarnya.

http://kabarjabarnews.com/berita-iwan-fals-menghina-presiden-menghina-rakyat-202.html

Friday, June 19, 2015

Kritik Kostum Militer Presiden, Relawan: Cara Berpikir Nashidik Sesat

Presiden Joko Widodo

Kritik Kostum Militer Presiden, Relawan: Cara Berpikir Nashidik Sesat

Jakarta - Juru bicara Partai Demokrat Rachland Nashidik mengkritik Presiden Joko Widodo yang mengenakan pakaian militer saat bertemu Pimpinan Pusat Muhammadiyah di Jakarta. Nashidik menilai penampilan Presiden Jokowi memalukan dan menggelikan.

Kritikan Nashidik ini dikecam oleh Ketua Umum Kebangkitan Indonesia Baru (KIB) Reinhard Parapat. Dia menilai cara berpikir Nashidik sesat dan tak beralasan.

Menurut Reinhard, berpakaian militer itu bukan identik dengan "menggelikan dan mempermalukan Presiden" seperti yang dituduhkan Rachlan Nashidik, justru itu menjadi kebanggaan tersendiri di tubuh TNI, khususnya yang sedang berlelah-lelah dalam latihan perang.

"Kalau kita tanya kepada seluruh prajurit TNI, justru itu merupakan perhatian dan dukungan kepedulian penuh Presiden Joko Widodo kepada prajurit TNI yang sedang berlatih dan bertugas menjaga perbatasan di Tanah Air," ujar Reinhard dalam keterangan persnya yang diterima Beritasatu.com, Jumat (19/6).

Reinhard juga menilai berpakaian militer bukan berarti kurangnya kemampuan cara berpikirnya Presiden Joko Widodo sebagaimana yang dituduhkan Rachlan Nashidik.

Nashidik, katanya, sangat subjektif dan memperlihatkan pemikirannya yang dangkal dan sesat, meletakan dasar atas suatu analisa dari sebuh "kostum".

"Tapi bukan dalam konteks isi pandangan pemikiran Presiden soal bernegara, khususnya soal isu militer, ini aneh, sesat dan tidak mendidik, cenderung sangat subjektif," tandasnya.

Selain itu, lanjutnya, dengan berpakaian militer, Jokowi mau menunjukan tidak ada lagi dikotonomi (pertentangan) antara sipil dan militer, setelah reformasi tahun 1998, dwi Fungsi ABRI (sekarang TNI) telah dihapuskan, dan hukum positip sudah jelas dan tegas telah memisahakan peran sipil dan militer dalam bernegara.

"Jadi tidak ada lagi cara pandang sesat dan iseng Rachlan Nashidik untuk mencari popularitas atas sebuah bahan analisa kostum yang dikait-kaitkan dengan supremasi sipil dalam negara demokrasi, UU sudah tegas memisahakan antara sipil dan militer," terangnya.

Menurut Reinhard, tidak ada hubungan sebab dan akibat, ketika Presiden menggunakan seragam militer, dianggap menunjukkan betapa rendahnya penghargaan pada sejarah perjuangan demokrasi kita. Kata Reinhard, pikiran sesat Rachlan Nashidik atas sebuah analisa kostum yang tidak ada hubungan sebab dan akibat, dikaitkan dengan isu penghargaan pada sejarah perjuangan demokrasi justru memperlihatkan kebutaan beliau akan ketersesatan cara berpikir dirinya sendiri.

"Analisa atas kostum Presiden Joko Widodo, justru mencerminkan kedangkalan kualitas pengetahuan Rachlan Nashidik sebagai kader Partai Demokrat, beliau ternyata tidak mengerti perkembangan hukum, di kala demokrasi kita sudah berubah ke arah yang lebih baik," pungkasnya.

Yustinus Paat/PCN

Source : http://www.beritasatu.com/nasional/283885-kritik-kostum-militer-presiden-relawan-cara-berpikir-nashidik-sesat.html

Thursday, June 11, 2015

Polisi "Ngakak" Dengar Cerita Ahok Bikin Nurul Arifin Mati Kutu

Kompas.com/Kurnia Sari AzizaGubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama saat menjadi pembicara dalam Seminar Sespimma Polri, di Balai Kota, Kamis (11/6/2015).

Polisi "Ngakak" Dengar Cerita Ahok Bikin Nurul Arifin Mati Kutu


Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama menceritakan upaya membungkam dirinya saat masih menjadi anggota Komisi II DPR RI. Upaya itu dilakukan Nurul Arifin yang diminta oleh petinggi Partai Golkar.

"Saya masih ingat Nurul Arifin ngomong begini ke saya, 'Hok, ini fraksi ngomong ke gue nih, lu mau dipindahin dari Komisi II. Karena kasus e-KTP, lu itu terlalu galak dan ribut-ribut melulu, mana lu mau bikin pembuktian terbalik, UU Pemilukada, macem-macem, jadi lu mau dipindahin'," kata Basuki menirukan ucapan Nurul.

Hal itu diceritakan Basuki saat menjadi pembicara dalam Seminar Sespimma Polri, di Balai Agung, Balai Kota, Kamis (11/6/2015).  

Pada saat itu, kata Basuki, dia bertanya kepada Nurul mengenai komisi mana dia akan dipindahkan. Nurul menjawab, Basuki akan dipindahkan ke Komisi VIII DPR RI yang membidangi agama. 

"Saya bilang lagi, 'Oke, lu kasih tahu tuh fraksi ya, bos-bosnya semua, nanti kalau gue di Komisi VIII, gue bongkar tuh mark updana naik haji semuanya'. Yang bongkar non-Muslim pula," kata Basuki mereka ulang percakapannya dengan Nurul.  

Nurul kemudian melapor ke Fraksi Golkar. Beberapa hari kemudian, Nurul kembali mendatangi Basuki. Kali ini, Nurul justru memberi kebebasan kepada Basuki untuk bergabung dengan komisi mana. 

"Sekarang lu mau gabung ke komisi mana? Asal jangan gabung di Komisi II lagi karena komisi lagi bikin UU Pemilukada dan keberadaan lu ngerepotin'," cerita Basuki meniru ucapan Nurul. 

Dengan santai, Basuki menjawab. "Di komisi mana pun gue berada, pasti keberadaan gue buat lu orang sakit kepala," kata Basuki. 

Ternyata pernyataan itu kembali membuat Nurul tak bisa berkata-kata. Pada akhirnya, beberapa pekan kemudian, Nurul kembali mendatangi Basuki. Ia serta pimpinan fraksi menyerah dengan argumentasi Basuki. 

"Ya sudah, lu tetap di Komisi II saja, tapi jangan banyak ngomongya," kata Nurul kepada Basuki yang direka ulang oleh suami Veronica Tan tersebut. 

Cerita Basuki ini membuat ratusan polisi dan Kepala Lembaga Pendidikan Polri (Kalemdikpol) Komjen Syafruddin yang hadir pada acara itu tertawa terbahak-bahak.


http://megapolitan.kompas.com/read/2015/06/11/11543771/Polisi.Ngakak.Dengar.Cerita.Ahok.Bikin.Nurul.Arifin.Mati.Kutu



Tuesday, June 2, 2015

Orang Agamais, Pastinya Pancasilais

Orang Agamais, Pastinya Pancasilais

Taufik Ismail/Tribunnews.com
Wakil Ketua Lembaga Bahstul Masail PBNU KH Cholil Nafis. 

Orang Agamais, Pastinya Pancasilais


Pancasila bukan agama, tetapi 'kesaktian'-nya terbukti dapat menyatukan agama-agama yang hidup dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). NKRI yang diraih dengan perjuangan dan pengorbanan telah memilih Pamcasila sebagai sikap bijak untuk mempersatukan dan menyejahterakan masyarakat.
Umat Muslim mayoritas telah merelakan egonya untuk berbagi kebaikan yang terkandung dalam ajaran Islam dan menyingkirkan potensi perpecahan yang mungkin timbul saat proklamasi kemerdekaan dan kehidupan berbangsa selanjutnya di bumi Indonesia (dar'u al-mafasid muqaddam 'ala jalbi al-mashalih).
Kewajiban anak bangsa Sekarang ini adalah memelihara kerukunan antarumat dan internal umat beragama juga memaksimalkan potensi diri untuk mengisi kemerdekaan yang digali dari spirit dan nilai-nilai agama. Agama yang luhur dan suci perlu di-bumi-kan untuk menjadi pijakan manusia yang penuh ambisi dan nafsu.
Kini Perjuangan anak bangsa Indonesia yang dinantikan adalah mengentaskan kebodohan dan kemiskinan serta mengupayakan sumber daya alam sepenuhnya untuk rakyat Indonesia.
Pancasila tak perlu dipertentangkan apalagi dibenturkan dengan ajaran agama. Sebab agama lebih luas cakupannya dan komprehensif. Sedangkan Pancasila adalah kebutuhan sebagai falsafah dan dasar negara. Orang yang agamis pastinya adalah pancasilais.
Oleh: Cholil Nafis, Wakil Ketua Lembaga Bahtsul Masail PBNU
Source : http://m.tribunnews.com/tribunners/2015/06/02/orang-agamais-pastinya-pancasilais

Monday, June 1, 2015

Kejujuran menjadi bagian harga diri dan kehormatan

manifesto 2

Kejujuran menjadi bagian harga diri dan kehormatan

Presiden Joko Widodo menghadiri peringatan Hari Lahir Pancasila di Alun-Alun Kota Blitar, Jawa Timur, Senin (1/6/2015).
Jokowi yang memakai pakaian batik bersebelahan dengan Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputr dan Ketua MPR Zulkifli Hasan.
Acara ini juga dihadiri mantan Wakil Presiden Budiono dan istri: Herawati, Wakil Ketua DPR Hidayat Nurwahid, Menteri Sosial Khofifah Indar Parawansa, Kapolri Jenderal Badrodin Haiti, dan Gubernur Jawa Timur Soekarwo.
Presiden Jokowi dalam sambutan mengatakan Hari Lahir Pancasila harus menjadi momentum dalam menjaga persatuan dan kesatuan bangsa. Menurut Jokowi, untuk bisa mewujudkannya, bangsa Indonesia harus lepas dari mentalitas lama, yakni mental kolonial dan feodal.
“Mentalitas lama itu harus hilang, agar keadilan yang sesungguhnya bisa terwujud, terutama bagi kaum nelayan, PRT dan buruh,” ujar Jokowi.
Berikut isi manifesto tersebut:
MANIFESTO
Masih Indonesiakah kita
Setelah sekian banyak jatuh bangun
Setelah sekian banyak tertimpa dan tertempa
Setelah sekian banyak terbentur dan terbentuk
Masihkah kita meletakkan harapan di atas kekecewaan
Persatuan di atas perselisihan
Musyawarah di atas amarah
Kejujuran di atas kepentingan
Ataukah ke-Indonesia-an kita telah pudar
Dan hanya tinggal slogan dan gambar?
TIDAK!
Karena mulai kini nilai-nilai itu kita lahirkan kembali
Kita bunyikan dan kita bumikan
Menjadi jiwa dan raga setiap manusia Indonesia
Dari Sabang sampai Merauke
Kita akan melihat lebih banyak lagi
Senyum ramah dan tegur sapa
Gotong royong dan tolong menolong
Kesantunan bukan anjuran tapi kebiasaan
Kepedulian menjadi dorongan
Dari terbit hingga terbenamnya matahari
Kita melihat orang-orang berpeluh tanpa mengeluh
Berkeringat karena semangat
Kerja keras menjadi ibadah
Ketaatan menjadi kesadaran
Kejujuran menjadi bagian harga diri dan kehormatan
Wajah mereka adalah wajah Indonesia yang sejati
Keluhuran budi mereka adalah keluhuran Indonesia yang sesungguhnya
Hari ini kita gemakan, Ini Baru Indonesia!
Dengan penandatanganan manifesto ini, Jokowi berharap seluruh rakyat Indonesia kembali menggali dan mengamalkan nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan sehari-hari. Manifesto juga merupakan momentum untuk kembali pada jati diri bangsa sesuai tujuan Proklamator yang telah melahirkan nilai dasar negara Pancasila.
Source : http://jpknews.org/manifesto-ini-baru-indonesia-kejujuran-di-atas-kepentingan-kejujuran-menjadi-bagian-harga-diri-dan-kehormatan/

Berjuang membumikan Pancasila, menjadikannya realiteite, dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.


Berjuang membumikan Pancasila, menjadikannya realiteite, dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

Saudara-saudara,
Pagi tadi saya mengikuti upacara peringatan Hari Lahirnya Pancasila, 1 Juni 2015, di alun-alun kota Blitar.
Setiap kali saya berada di Blitar, hati saya selalu bergetar, karena saya selalu teringat pidato Bung Karno pada 1 Juni 1945. Tujuh puluh tahun lalu, di depan sidang Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia, Bung Karno menyatakan, ”Pancasila, itulah yang berkobar-kobar dalam dada saya, sejak berpuluh-puluh tahun, diterima atau tidak, terserah saudara-saudara, tetapi saya sendiri mengerti seinsyaf-insyafnya, bahwa tidak satu weltaschauung dapat menjelma dengan sendirinya, menjadi realiteite, jika tidak dengan perjuangan.”
Sejauh ini, kita harus mengakui, Pancasila belum sepenuhnya menjelma menjadi perikehidupan yang adil, manusiawi, toleran, dan makmur bagi para petani, buruh, nelayan, guru, pedagang kaki lima, rakyat yang tinggal di perbatasan dan pulau-pulau terluar, serta anak bangsa yang lain.
Pancasila yang seperti itu adalah ibarat butir-butir mutiara yang digali dari bumi pertiwi. Tapi, butiran mutiara itu belum dirajut menjadi untaian kalung, dia belum menjadi realiteite.
Pembacaan Bung Karno atas Pancasila mengingatkan saya bahwa tidak ada negara yang berdiri tanpa perjuangan. Berdirinya NKRI tidak berarti perjuangan selesai. Justru kita baru memulai.
Karena itu tugas kita bersama adalah bekerja keras, berjuang membumikan Pancasila, menjadikannya realiteite, dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.
Pergerakan kita janganlah pergerakan yang kecil-kecilan. Pergerakan kita haruslah suatu pergerakan yang ingin mengubah sifat masyarakat. Suatu gerakan yang menjebol kesakitan-kesakitan masyarakat sampai ke akar-akarnya.
Tugas kita adalah mewarisi api pemikiran dan perjuangan Bung Karno. Untuk bisa mewarisi api pemikiran itu, saya ajak rakyat Indonesia: mari dalam peringatan momentum Hari Pancasila kita bersatu-padu bergandeng tangan mewujudkan janji kemerdekaan.
Source : https://www.facebook.com/presidenID/photos/a.395824410606414.1073741848.390581294464059/398047020384153/?type=1&theater

Jangakan dipanggil Angket,dipanggil Tuhan juga kita udah siap kok !



Ahok: Jangankan dipanggil Angket, dipanggil Tuhan juga kita udah siap kok !
Kita tahu resiko melawan arus di Republik ini .